Pendakian Gunung Papandayan - Berasa Pergi ke Swiss

Sabtu, 16 Maret 2013. Sore hari sekitar pukul 4 sore, dengan menggendong keril (tas rasel/carrier untuk naik gunung, red) dan ditemani gerimis sore hari, saya dan seorang teman bergegas menuju meeting point di terminal bus Kp. Rambutan. Setibanya di sana sudah menunggu beberapa orang yang akan ikut mendaki bersama kami ke Gn. Papandayan (2665 mdpl) - Garut. Sekitar jam 5 sore tim kami telah kumpul semua (13 orang, 3 wanita tangguh diantarannya...hehe) kami pun berangkat menuju Kota Garut dengan menggunakan Bus Umum. 

Perjalan menuju Garut seharusnya ditempuh sekitar 4 jam jika kondisi lancar, karena kondisi jalan di beberapa titik macet dan bus seringkali keluar masuk tol untuk mengangkut penumpang sampailah kami di Garut jam 12 malam. Di Garut kami turun di alun-alun dekat sebuah masjid, menunggu mobil pick up yang sudah kami pesan. Kami tidak langsung menuju ke Gn. Papandayan karena kami harus menjemput kawan dari Bandung (6 orang) yang memang akan ikut pendakian bersama kami di salah satu kafe yang juga menjadi basecamp Fans Club Manchaster City. Suasana kafe malam itu memang sudah sepi oleh pengunjung, kami manfaatkan untuk berbagai aktifitas seperti istirahat, mengisi daya baterai handphone/kamera, dan shalat. 

Sekitar pukul 00.30 dini hari kami berangkat menuju kawasan Gn. Papandayan dengan menaiki pick up yang berisikan 19 orang plus tas keril (kerja rodi nih pick up'nya...heheh). Di tengah jalan kami menyewa satu pick up lagi, karena kondisi jalan menuju kawasan Gn. Papandayan menanjak dan jalan rusak tidak kuat jika dipaksakan menggunakan satu pick up. Hawa dingin menemani perjalanan kami dan langit malam itu cerah setelah sore hari kota Garut diguyur hujan, selama diperjalan kami disuguhi pemandangan indah berupa gugusan ribuan bintang di langit dan kokohnya Gn. Cikuray yang dihiasi lampu-lampu rumah penduduk, menambah keindahan perjalanan malam itu. 

Jam 2 dini hari kami pun tiba di pos pendakian Camp David, suasana pos sepi dan gelap gulita karena belum teraliri listrik. Beberapa warung kecil masih buka dan masih menjajakan makanan dan minuman hangat, kami pun memesan semangkuk mie rebus plus nasi dan beberapa gorengan. Memang nikmat rasanya menyantap makanan hangat di tengah dinginnya udara Gn. Papandayan sebelum tidur untuk mengisi energi pendakian esok.

Keesokan paginya pukul 05.30 kami pun bersiap untuk sunrise attack meskipun agak sedikit telat. Kami melakukan pendakian tek tok (naik langsung turun) di temani dengan seorang guide "Kang Dede" kami memanggilnya, ada beberapa daerah yang akan kami kunjungi, area kawah yang masih aktif, hutan mati, Tegal Alun, dan Pondok Salada. Kami langsung diajak untuk melihat sunrise setelah melewati bebatuan sisa lahar dingin.

"Sunrise Gunung Papandaya Garut"
View Sunrise Papandayan, Gn.Papandayan Garut - Minggu, 17 Maret 2013

"Trecking Mount Papandayan - Garut"
Treking Bebatuan, Gn.Papandayan Garut - Minggu, 17 Maret 2013

Selepas berburu sunrise kami melanjutkan perjalan menyusuri gundukan bebatuan sisa letusan Gn. Papandayan tahun 2002 silam. Di area tersebut bau belerang cukup menyengat dan terdapat beberapa sumber mata air panas, namun sayang belum dikelola oleh pemerintah daerah setempat. Selang dua jam perjalan kami memutuskan untuk istirahat sejenak, dengan membuat segelas kopi dan beberapa makanan ringan sambil menikmati pemadangan indah Papandayan "The Wonderful Switzerland van Java". Tak lama kami melanjutkan perjalan ke hutan mati, di mana banyak batang pepohonan mati akibat letusan berapi. Indah memang menapaki jalan ditemani pohon-pohon mati yang begitu artistik terbentuk oleh alam.

"Rock Volcano"

"Hutan Mati Gunung Papandayan"
Kawasan Hutan Mati, Gn.Papandayan - Minggu, 17 Maret 2013

Dari hutan mati kami menuju ke Tegal Alun, tempat yang cukup terkenal di kawasan ini. Karena di daerah itu banyak sekali tumbuh bunga Edelweis sang bunga abadi. Perjalan menuju area tegal alun memang cukup menantang selain treking berupa tanjakan ditambah kondisi tanah basah akibat hujan menyebabkan jalan licin dan berlumpur, sempat salah satu dari kami terpeleset karena licinnya tanah yang kami pijak. 

Dengan semangat pantang menyerah akhirnya kami sampai di Tegal Alun. Perjalanan yang cukup melelahkan terbayarkan ketika kami melihat rimbunnya bunga Edelweis tumbah memenuhi tegal alun. Beruntungnya kami disaat datang berbarengan dengan mekarnya bunga Edelwies. 

"Tegal Alun Gunung Papandayan"

"Tegal Alun - Gunung Papandayan"
Tegal Alun (Padang Edelweis), Gn.Papandayan - Minggu, 17 Maret 2013

Setelah puas mengagumi cipataan Maha Kuasa di Tegal Alun dan sesi berfoto ria selesai, kami menyempatkan diri mampir ke sumber mata air di salah satu sisi dekat Tegal Alun. Air mengalir besih dan jernih dan dapat langsung di minum. Kami mengambil beberapa liter untuk perbekalan selama di perjalanan berikutnya. 

Tujuan kami selanjutnya adalah Pondok Salada, tempat ini sering digunakan oleh pendaki gunung maupun wisatawan sebagai tempat bermalam untuk mendirikan tenda dan api unggun, karena lokasinya berupa tanah lapang beralaskan rumput hijau dan disekitarnya membentang puncak Gn.Papandayan, jika dilihat dari kejauhan mirip dengan Kebun Raya Cibodas. Kami kembali melewati hutan mati sebelum menuju Pondok Salada. Sehingga jalan yang kami lewati adalah jalan memutar dan tidak melewati bebatuan belerang.

"Pondok Salada Gunung Papandayan, Garut"
Pemandangan dari Pondok Salada, Gn.Papandayan - Minggu, 17 Maret 2013

Sekitar jam 2 siang kami tiba kembali di Camp David, segera memesan makanan dan minuman hangat selepas membersihkan diri dan berkemas barang bawaan. Sore itu hujan gerimis turun di kawasan Gn.Papandayan menambah dinginnya udara saat itu. Jam 16.00 sore kami langsung meninggalkan Camp David dengan menaiki dua buah pick up menuju terminal Garut. Jam 5 sore kami segera naik bus dengan tujuan Jakarta (Lb. Bulus). Dan akhirnya sampai di Kp. Rambutan jam 23.30 mengakhiri petualangan Gn. Papandayan meninggalkan banyak kesan dan cerita manis walaupun hanya sebentar di sana.

Tips
1. Lebih baik naik bus umum Primajasa dari pada bus yang lain, karena dari pengalaman kemarin kita naik bus lain dari terminal Kp. Rambutan bus sudah masuk tol tapi balik lagi ke terminal gara-gara mau cari penumpang lagi, berasa de-javu kata si Mba'e...hehehe. Untuk bus Primajasa tunggu di bawah fly over Kp. Rambutan soalnya si bus keluar dari tol depan pabrik Frisian Flag, jadi jangan tunggu di terminal Kp. Rambutan. 

2. Berhubung udara malam di Gn.Papandayan cukup dingin, jangan lupa bawa sarung tangan dan kupluk, soalnya kemaren sarung tangan saya ketinggalan, lumayan kedinginan juga tangannya.

3. Bawa juga masker, karena bau belerang cukup menyengat selama berada di sekitar area kawah.

4. Untuk berjaga-jaga buat para newbie (pemula, red) seperti kita-kita ini. Lebih baik sewa jasa pemandu, daripada nyasar buang-buang waktu. Referensi aja ini ada CP Pemandu "Kang Dede" : 087838391009 buat sewa pick up CP Kang Ato : 082118655474.

5. Terakhir yang lumayan penting juga nih, siapin kartu provider cadangan masalahnnya cuma beberapa provider kaya Ind*sat dan X* ada sinyal, yang lainnya ada cuma putus-putus, klo mau lancar harus ke puncak atau naik menara observasi dulu...hahaha.

No comments:

Post a Comment