Surga Tersembunyi Itu Bernama Segara Anakan

Minggu, 31 Desember 2013. Perjalanan dari Pantai Sendang Biru ke Pulau Sempu memakan waktu sekitar 10 menit dengan menggunakan perahu nelayan, karena letakknya tidak terlalu jauh. Kami semua naik dalam satu perahu berikut barang bawaan. Tak lama perahu pun menepi di Teluk Semut, kedatangan kami disambut hujan besar, segera kami berlari mencari tempat berteduh sekaligus mengenakan jas hujan serta rain cover untuk keril dan segera melanjutkan perjalanan karena hari sudah sore. 

Medan yang kami hadapi berupa hutan dengan pohon tinggi besar dan semak belukar serta jalan naik turun, sesekali melewati pohon besar yang tumbang dan kami pun harus membungkukkan diri beserta keril bawaan. Kondisi jalan sulit terbaca untuk orang yang baru pertama kali datang ke pulau ini akibat aliran air hujan bercampur lumpur, tak salah jika kami menyewa jasa pemandu yang sudah paham benar kondisi dan jalan menuju laguna. Mungkin jika kami tidak menyewa jasa pemandu lain lagi ceritanya, bisa-bisa kami tersasar seperti pasangan suami istri yang hilang belum lama ini dan akhirnya ditemukan 3 hari kemudian. 

Perjalan menuju laguna cukup panjang sekitar 3 km dengan waktu tempuh 2-3 jam. Dalam perjalanan beberapa kali kami berhenti istirahat melepas lelah dengan menuguk air mineral dalam botol yang kami bawa dan sesekali berhenti menunggu beberapa teman yang tertinggal di belakang karena pemandu kami memang berjalan agak cepat. Di tengah perjalanan sesekali kami berjumpa dengan rombongan yang akan kembali ke Pantai Sendang Biru dengan raut muka kelelahan dan baju penuh lumpur sehabis berjibaku dengan liarnya traking pulau Sempu. 

Dari balik hutan dan rimbun pepohonan terlihat sebuah pantai dengan air berwarna hijau, menandakan laguna tersebut sudah dekat. Rute jalan memutari laguna untuk menuju pantai, melewati tepian laguna dengan jalan berkarang bercampur lumpur, sehingga harus ekstra hati-hati agar tidak terpeleset ataupun terjatuh kedalam laguna. Akhirnya kami sampai di Segara Anakan dengan waktu tempuh lebih cepat dari waktu normal sekitar 1,5 jam. Sesampainya kami di sana, kami terkejut karena sudah banyak tenda berdiri dibarengi dengan banyaknya sampah di sekitar pantai. Memang agak disayangkan alam sebagus ini tercemari oleh sampah, menjadikan laguna ini terkesan kumuh dan berantakan. Ya maklum saja kami datang bertepatan dengan pergantian tahun, menjadikan laguna ini dijejali banyak pengunjung.

Kami pun mencari lahan kosong untuk mendirikan tenda, dengan dibantu pemandu kami dipilihkan area yang cukup aman dari air pasang nanti malam, di sekitar tepi hutan yang letaknya jauh dari pantai. Tenda telah siap, saya segera membongkar tas keril yang sudah basah terguyur hujan, berharap baju ganti yang dibawa tidak basah. Karena pakaian tidak dimasukkan kedalam platik beberapa baju ganti basah, segera saya jemur di atas tenda berharap besok sudah kering. Suasana malam itu sangatlah ramai, hampir mirip di pengungsian tepatnya (hehehe). Beberapa bernyanyi di depan api unggun sambil memasak makan malam. 

Malam itu waktu kami habiskan untuk bermain (gaple, bukan judi lho) sambil bercerita mengenai petualangan backpacker senior, semakin menjalin keakraban di antara kami. Malam itu bulan penuh, mengakibatkan air pasang yang tidak diharapkan pun datang. Banyak tenda yang tepat berada di pinggir mulut pantai harus rela mencari lokasi baru akibat hantaman air pasang, walaupun mereka sudah bersusah payah membuat bendungan dari pasir yang dipadatkan sehingga membentuk sebuah pengahalang air pasang dari pasir. 

"Segara Anakan, Pulau Sempu Malang"
Laguna Segara Anakan-Pulau Sempu, Senin 31 Desember 2012
"Segara Anakan Pulau Sempu Malang"
Laguna Segara Anakan-Pulau Sempu, Senin 31 Desember 2012

"Segara Anakan Pulau Sempu Malang"
View Segara Anakan dari Bukit, Senin 31 Desember 2012

Pagi hari tiba, saya dan beberapa teman sengaja bangun pagi selepas subuh untuk menyusuri keindahan laguna. Ketika melihat ke pantai, ternyata air pasang semalam telah surut menyebabkan batu karang yang berada di laguna tersebut terlihat dengan jelas, dan sudah banyak orang yang berfoto diatas karang. 

Kami pun tidak mau kalah untuk mengabadikan diri diatas karang tersebut. Sementara beberapa teman merebus air untuk sarapan. Selepas sarapan kami semua melanjutkan eksplorasi ke sudut dimana banyak orang terlihat, tepatnya ke salah satu tebing yang langsung berhadapan dengan Samudra Hindia. Deru ombak memecah tebing dengan laut biru jernih menghampar luas. 

Dari tempat ini pantai laguna pun terlihat indah dari kejauhan berbarengan dengan warna warni tenda. Kami sempatkan berfoto di kawasan ini, setelah puas mengambil gambar kami langsung kembali ke pantai dengan misi yang sama untuk berfoto ria. Setelah puas mengambil gambar dengan berbagai gaya, beberapa dari kami termaksud saya menyempatkan diri untuk berenang (lebih tepatnya main air untuk saya, karena tidak bisa renang), awalnya saya agak ragu untuk berenang, karena terlihat di bibir pantai dan dari kejauhan terlihat banyak sampah yang mengotori laguna. 

Melihat teman saya sudah asik berenang akhirnya saya pun ikut, beningnnya air datambah terpaan sang mentari semakin asyik suasana bermain air saat itu. Tidak lama kami langsung merapihkan tenda dan barang bawaan, untuk segera kembali ke Pantai Sendang Biru dan tidak lupa untuk membawa semua sampah kami yang dimasukan ke dalam trash bag. Dalam perjalan pulang menuju Teluk Semut, akibat hujan kemarin kondisi jalan menjadi berlumpur yang menghambat setiap langkah kami. Karena sepatu karet kami menjadi lengket dengan tanah berlumpur. 

Selama di perjalanan menju Teluk Semut kami mengumpulkan sampah botol air mineral untuk di bawah ke Pantai Sendang Biru, setiap menemukan sampah kami berhenti beberapa saat untuk diikatkan ditali rafia. Beberapa kali saya meminta tali rafia kembali ke teman karena sudah tidak cukup menampung sampah botol. Selang waktu 3 jam kami sampai di Teluk Semut dan naik ke perahu nelayan untuk menyeberang ke Pantai Sendang Biru. Sesampai di Pantai kami berpapasan dengan seorang pemulung, langsung saja kami berikan semua sampah botol kepada pemulung. 

Di pantai banyak pedagang berjualan makanan dan minumam, karena air dalam perjalan pulang sudah habis, kami sedikit sekali minum pada saat perjalanan pulang. Langsung saja kami segera mencari minuman dingin yang menyegarkan, pilihan saya jatuh pada es kelapa muda. Nikmat sekali rasanya meminum es kelapa di tengah kondisi badan sehabis perjalan pulang, hingga saya pesan dua kali. 

Lalu kami kembali ke rumah warga untuk mandi dan berganti pakaian, serta merapihkan barang bawaan. Setelah semua beres kami sempatkan untuk makan siang, sebelum melanjutkan perjalanan panjang ke Gn. Bromo. Akhirnya sekitar jam 1 siang kami meninggalkan Pantai Sendang Biru menuju kawasan Gn. Bromo dengan rute Malang - Probolinggo.

"Pulau Sempu Segara Anakan Malang"

Backpacking Peduli Lingkungan
Sweeping sampah di perjalan pulang, Senin 31 Desember 2012

Budget
- Sewa perahun nelayan = Rp. 10.000,-/orang
- Sewa kamar mandi = Rp. 2.000,-/orang
- Makan Siang = Rp. 10.000,-/orang
- Minum Es Kelapa = Rp. 10.000/orang
Total = Rp, 32.000,-

Tips
1.  Bawa jas hujan dan rain cover antisipasi pada saat musim hujan, dan juga pakaian ganti dimasukan ke dalam plastik.

2. Sewa pemandu jalan apabila anda pertama baru pertama kali datang lebih disarankan, dengan kondisi anda memulai traking pada sore hari dan orang yang akan ke laguna sedikit. Apabila kondisinya banyak orang yang datang ke laguna, bisa bertanya dengan yang lain.

3. Gunakan sepatu karet yang biasa disewakan oleh penduduk setempat, apabila cuaca saat itu hujan, karena jalan yang dilalui berupa tanah berlumpur. 

4. Tidak disarankan pergi pada saat puncak musim liburan seperti tahun baru, jika anda tidak menginginkan suasana ramai (apalagi seperti di pengungsian...hehehe). 

5. Selalu bawa kantung plastik, dapat untuk pakaian ganti maupun untuk sampah, hargai alam dengan selalu menjaga dan melestarikannya secara bijak, tidak membuang sampah sembarangan serta mencoret-coret objek wisata yang dikunjungi. Karena beberapa kali berkunjung, banyak disuguhi pemandangan luar biasa, tapi disayangkan selalu banyak sampah berserakan dan tulisan iseng terkesan berantakan dan kumuh (maaf klo curcol nih).

6. Selalu utamakan keselamatan dalam melakukan perjalanan, wajib bawa obat-obatan pribadi yang dirasakan perlu.

1 comment: