Jejak Jepang - Pengalaman Pertama Backpacker ke Jepang


Jepang, negara yang terletak di Asia Timur ini bagi segelintir orang Indonesia memiliki daya tarik tersendiri untuk dikunjungi. Meskipun bukan penggemar anime/manga dan musik Jepang, entah kenapa ingin sekali berkunjung kesana. Mungkin semasa kecil sudah disuguhi kartun Jepang seperti Doraemon dan Dragon Ball dan tertarik dengan budaya hidup disana yang begitu disiplin dan tata kota yang rapi dan bersih yang membuat ingin berkunjung kesana sekaligus studi banding ^^. Oke, langsung saja tanpa berlama-lama kali ini saya ingin berbagi pengalaman tentang backpacker ke Negeri Sakura beberapa saat lalu. Setelah penantian sepuluh bulan sejak pembelian tiket promo, hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Saya pergi dengan tiga orang teman dan merupakan perjalanan pertama ke luar negeri bagi kami semua, dengan mental siap tersesat di negeri orang kami pun berangkat. Perjalanan kali ini kami mengambil rute Jakarta-Osaka  (KIX) PP.



Day-1

Rabu 15 Mei 2013, menempuh perjalanan kurang lebih delapan jam (dua jam Jakarta-Malaysia kemudian enam jam Malaysia-Jepang) akhirnya kami tiba di Bandara Kansai International (KIX) di Kota Osaka-Kansai Area. 


Kansai International Airport (KIX)

Tips:
Tukar mata uang Ringgit Malaysia untuk membeli makan dan minuman jika transit cukup lama.
▪Bawa colokan kepala tiga sesuai dengan standar di Malaysia, di Terminal LCC tersedia charger center. 



Kemudian naik kereta khusus bandara untuk mengurus imigrasi. Baru sampai di bandara saja kami langsung dibuat kagum oleh proses pengurusan imigrasi oleh staf imigrasi bandara. Bagaimana tidak, ada antrian sedikit saja muka petugasnya sudah sangat ketakutan sekali sehingga tidak tanggung-tanggung 18 counter pun dibuka semua dan siap melayani (memang waktu sangat dihargai sekali di negara ini). Kemudian ambil tas ransel di bagasi counter. Ketika akan menuju informasi center seseorang dengan berpakaian jas rapih mendatangi, dan menunjukan lencana yang menandakan bahwa dia seorang polisi. Dengan ramah dia meminta kami menunjukkan paspor dan mencatat no paspor dan nama kami. Kemudian pergi ke informasi center (turun elevator belok kiri) meminta peta dan info transport kota di Jepang (gratis) dan beli Osaka Unlimited Pass Day untuk 2 hari (¥2700) dan Kyoto Bus Pass Day untuk 1 hari (¥500). Untuk hari pertama tujuan kami adalah Kyoto. Untuk pergi dari Osaka ke Kyoto kami mencoba naik kereta peluru Jepang yaitu Shinkansen karena rute tersebut adalah rute paling dekat dan termurah. Karena Shinkansen memiliki jalur tersendiri (JR/Japan Rail) jadi kami harus menuju ke St.Shin-Osaka terlebih dahulu dengan naik kereta dari bandara transit di St.Namba kemudian St.Shin-Osaka (¥980) tiket dibeli di mesin tiket, awalnya sedikit bingung karena baru pertama kali, kami tanya petugas dan kami diberikan selembar kertas yang berisi tata cara pembelian lengkap dengan gambar-gambarnya (karena kebanyakan orang Jepang belum tentu bisa bahasa Inggris). Setelah sampai di St.Shin-Osaka segera mencari loket tiket Shinkansen (¥1380) kali ini tidak dibeli di mesin. Shinkanzen Nazomi N700 menuju Kyoto yang akan kami naiki, karena banyak jalur dan takut kami salah jalur dengan baik hati petugasnya mengantar (jalur 26). Tidak menunggu lama kereta yang ditunggu datang. Karena kami tidak reservasi maka kami duduk di gerbong non reserved. Sedikit bingung duduk di gerbong mana karena tulisan di tiketnya bahasa Jepang semua, setelah tanya petugas ternyata kami dapat gerbang No.6 dengan pilihan tempat duduk bebas. Tidak lama kami duduk kereta sudah sampai St.Kyoto, memang hanya 15 menit  saja dibandingkan naik bus yang memakan waktu sejam lebih.







Shinkansen Kereta Peluru Jepang
Tips:
▪Isi kertas deklarasi yang diberikan ketika berada di pesawat karena akan diserahkan di counter imigrasi.
▪Minta peta kota dan jalur bus/kereta di informasi center (KIX) dan beli Unlimited Pass di Travel Center (sebelah informasi center)
▪Colokan kepala dua gepeng untuk standar listrik di Jepang.  




Untuk menuju ke hostel dari St.Kyoto kami naik bus (¥220) dan turun di halte Gion, segera kami mencari alamat hostel tersebut. Sedikit susah mencari letak hostel yang kami pesan karena letaknya ditengah blok, walaupun sedikit tersasar akhirnya kami temukan hostelnya. Letak hostel berada di Lt.3, segera check in dan membayar sisa kekurangan pemesanan (¥1900/malam) dengan fasilitas ruang umum (TV, meja makan, dapur, dan laundry) serta shower kemudian beristirahat sejenak. Sore hari jalan menuju Myohoin dan Chisakuin Temple yang letaknya tidak jauh dari hostel dengan berjalan kaki sekaligus membeli makan sore. Kesan menginjakkan kaki di Negeri Sakura untuk pertama kali adalah masyarakatnya tertib dan teratur mulai dari menyebarang jalan sampai naik bus/kereta, moda transportasinya sudah sangat terintegrasi dari kereta hingga bus, pemandangan biasa jika orang kantor pergi dengan menggunakan sepeda. Jalur pejalan kaki dan pesepeda sangat difasilitasi sekali disertai dengan zebra cross yang lebar. Walaupun jarang tempat sampah di sepanjang jalan, tetapi tidak ada sampah karena kebiasaan disana sampah disimpan terlebih dahulu di dalam tas atau kantung pakaian apabila menemukan tempat sampah baru dipindahkan. Tempat sampah juga dipisahkan antara kertas (koran), plastik (botol air), dan umum.





















Tips:
▪Berkeliling Kyoto lebih baik menggunakan Bus, terdiri dari beberapa no bus dengan rute perjalanan berbeda. 
▪Beberapa rute bus keluar dari zona pass day sehingga akan dikenakan biaya tambahan tergantung jarak.
▪Untuk makanan dengan harga terjangkau bisa membeli di mini market seperti Lawson, 7/11, dan Family Mart dengan harga sekitar ¥300 s/d ¥600.
▪Pemesanan kamar hostel jauh-jauh hari bisa lebih murah.

To be Continue Day-2....

No comments:

Post a Comment