Jejak Jepang - Main ke Gunung 'Kramat' Orang Jepang (Gn.Fuji)

Sabtu, 18 Mei 2013 - Tokyo, Rencana hari ini sebenarnya agak galau buat saya di hari ke-4 backpackeran di Jepang. Kenapa galau???  Yap karena sebenernya rencana di hari ke-4 ini adalah keliling kota Tokyo, dengan luasnya kota Tokyo rasanya tidak cukup untuk dijelajahi hanya dalam beberapa hari, karena banyak objek menarik yang harus dikunjungi, seperti Tokyo Tower, Shinjuku, HarajukuRoppongi, Akihabara dll. Karena salah satu teman trip saya mengajak untuk melihat Gunung Fuji, gunung yang disakralkan oleh penduduk Jepang dan untuk menuju kesana butuh waktu sekitar 2 jam perjalanan dari Tokyo dan menurut saya waktu disana terlalu sedikit sehingga kurang puas untuk eksplorasi kawasan Kawaguchiko secara keseluruhan ditambah harga bus dari Tokyo ke Kawaguchiko lumayan menguras kantong sekitar 300rb rupiah untuk tiket bus pulang pergi. Tapi apa daya melihat teman saya yang seperti orang hamil tua, sedang ngidam melihat langsung Gunung Fuji akhirnya saya pun mengiyakannya, karena dua teman saya yang lain berbeda agenda untuk hari ini, mereka berdua lebih memilih ke daerah Kawasaki untuk melihat Museum Doraemon yang tiket masuknya sudah susah payah mereka cari kemarin setelah keluar masuk beberapa SeVel (Seven Eleven) untuk pembelian tiket Museum Doraemon.

Jejak terkait : Berburu Tiket Masuk Museum Doraemon 

Ashakusa - Shinjuku

Berangkat dari hostel agak siang, karena jam 8 baru bangun setelah semalam kecapean jalan kaki dari hostel ke Tokyo Sky Tree PP, yang jaraknya lumayan jauh, ditambah angin malam kota Tokyo yang kurang bersabahat karena suhu dingin sampai jalan di kota ini sepi sekali atau mungkin banyak dari mereka beraktivitas di bawah tanah (naik subway dll). Tapi yang heran di suhu dingin gini ada kakek umur sekitar 70 tahun pakai kaos oblong lengan buntung dengan handuk di leher lagi lari pelan alias joging malam #salut. Perjalanan naik kereta dari St.Asakhusa dengan pemberhentian di St.Shinjuku (harus transit beberapa stasiun dan ganti subway beda warna line) sempet di tengah jalan sebelum St.Asakhusa teman saya balik lagi ke hostel karena dompet doi ketinggalan.

Sampe St.Shinjuku langsung bingung kita berdua mau keluar lewat pintu nomer berapa yang deket dengan tempat beli tiket bus ke Kawaguchiko, maklum saja karena stasiun yang satu ini merupakan salah satu stasiun tersibuk di Jepang dengan jumlah peron mencapai empat puluhan. Setiap stasiun di Jepang apalagi di Tokyo yang super sibuk punya beberapa pintu keluar masuk. Karena banyaknya kita ngandelin map yang sudah di print aja tetep bingung meskipun banyak petunjuk jalan tapi kan yang kita cari ini gedung yang jual tiket dan gak ada keterangannya. Karena terlalu bingung dan agak lama akhirnya kita putusin untuk keluar dari stasiun dulu dan cari dari luar sana biar lebih gampang. 

Dari luar lihat peta cari nama gedung atau bangunan yang paling deket dengan tempat jual tiket, setelah mute-muter akhirnya ketemu juga. Langsung kita tanya keberangkatan yang paling cepet, ternyata kami berdua agak telat untuk dapet keberangkatan yang pagi, akhirnya kita ambil keberangkatan yang siang jam 1 dan masih ada waktu senggang 2 jam untuk keliling Shinjuku. 

Waktu yang ada selama dua jam kita manfaatin buat jalan2 ngeliat pertokoan di distrik Shinjuku, pertama kami langsung ke toko elektronik yang jual beragam barang elektronik mulai dari kalkulator, HP, kamera dll. Karena teman saya lagi cari card reader buat mindahi memory kamera digitalnya yang udah mulai penuh. Masuk ke toko yang di dominasi peralatan elektronik langsung ngiler liat iPhone dan iPad keluaran terbaru dengan tag harga ribuan yen T_T: #ngeces. 


Ditambah beragam kamera DSLR dengan bermacam2 lensa yang bikin tambah ngeces pengen punya tapi sayang kantong gak mendukung...huhuhu nasib backpacker kere. Setelah dapet card reader temen saya langsung ngajak liat toko-toko baju seperti Uniqlo brand fashion Jepang yang udah ada di Indonesia, masuk Uniqlo sekedar liat dan lebih ke survei harga tepatnya...hehehe karena si doi gak beli apa-apa.

Puas liat pakaian langsung kita jalan santai di sepanjang pertokoaan dan gak tau mau sampai mana kita jalan sambil nunggu jam satu siang buat balik ke pool bus. Karena lumayan jalan terlalu jauh akhirnya kita balik lagi ngelewatin toko-toko sepatu, terus masuk iseng-iseng liat sepatu sebangsa Adidas, Nike dll, survei harga lagi lebih tepatnya dan yang bikin miris atau bangga yah (beda tipis) banyak sepatu ternyata buatan Indonesia yang pabriknya di Tanggerang di ekspor sampai Jepang, miris karena kita lebih suka produk luar padahal orang luar pakai buatan Indonesia semenjak itu langsung #proudtouselocalproduct. 


Sadar waktu udah deket jam satu langsung kita balik ke pool bus sengaja dateng 30 menit lebih awal karena jadwal trnasportasi di Jepang sangat-sangat tepat waktu (bukan jam karet kayak di Indonesia), toleransi keterlambatan kisaran detik dan paling buruk adalah menit, mereka sudah demo (mungkin sampai ke menteri perhubungan), bagai langit dan bumi kalau dibandingin sama maskapai lokal yang paling terkenal dengan delay penerbangannya L**n Air delaynya gak ketulungan sampe 17 jam gila gak tuh??? Ya mbok mikir!!! Dan paling parahnya penumbang cuma dikasih makanan alakadar dan ganti rugi yang juga alakadar, tapi yang gak habis pikir kenapa masih ada aja yg naik tuh maskapai antara butuh dan terpaksa mungkin beda tipis #curhat.

Di pool bus duduk di kursi tunggu, liat banyak orang yang juga mau ke daerah Kawaguchiko beberapa bawa koper dan gak sedikit yang bawa ransel ala backpacker dan kami berdua cuma bawa tas selempang karena ransel di taruh di hostel. Bus besar yang kondisinya luarnya bersih mengkilap seperti baru di cuci beberapa menit sekali berhenti untuk menaikan penumpang. Kalau di Jepang si supir ngerangkap jadi kondektur, jadi sebelum penumpang masuk si supir dengan pakaian lebih mirip pilot pesawat berdiri di depan pintu masuk bus, pegang check list dan pulpen sambil periksa tiket penumpang yang akan masuk sekaligus absen jadi si supir multi tasking kerjanya, ini berlaku buat bus jarak jauh kalau jarak deket juga gak ada kondekturnya cuma si supir gak sibuk periksa tiket karena penumpang tinggal masukin kartu atau uang koin ke mesin sebagai cara bayar.


Shinjuku - Kawaguchiko

Tepat jam 1 siang bus yang akan membawa kami ke Kawaguchi datang, bener2 sesuai jadwal. Pilih kursi agak belakang karena bus tidak terlalu penuh dan kita bebas pilih no kursi. Persis di depan kursi yang saya dudukin, ada pasangan kalau di denger dari bahasa yang mereka pakai adalah orang dari Perancis, yang cowo ganteng dan yang cewe juga cantik sepertinya pasangan ini lagi bulan madu, di sepanjang jalan karna saya bener2 duduk di belakang nya persis jadi agak gimana gitu kalau ngeliat mereka berdua lagi mesra2an...alamak enak bener kalau bisa honey moon di Jepang kayak mereka dan jadi bucket list saya kalau bulan madu nanti. 

Ngerasa naga yang di perut saya udah pada ribut minta dikasih makan, makanan yang di beli di family mart kita buka, saya beli ayam goreng, onigiri dan oden serta sebotol air mineral. Di tengah jalan tidak jarang supir berhenti beberapa kali untuk menaiki penumpang, ternyata di Jepang di tengah jalan tol ada tempat khusus untuk bus berhenti menaikan dan menurunkan penumpang dan terdapat akses jalan kecil yang langsung terhubung ke pemukiman warga jadi mudah untuk naik kendaraan umum meskipun di tengah jalan tol. 

Alhamdullilah cuaca hari ini cerah bersahabat, sepanjang jalan pun lancar tidak ada kemacetan, selang satu jam perjalanan mulai tampak puncak Gunung Fuji yang tertutup salju abadi. Konon kalau kita bisa liat Gunung Fuji dengan jelas pengaruh ke keberuntungan kita, percaya ga percaya sih. Wahana permainan Fuji Q Highland yang memiliki rollcoster yang terlihat ekstrem cocok buat pemacu adrenalin pun terlihat jelas dari dalam bus, banyak juga penumpang yang memang turun di depan pintu masuk Fuji Q. 

Jam setengah 4 sore akhirnya tiba di halte bus Kawaguchiko, ketika turun dari bus udara pegunungan yang bersih seperti minta di hirup sepuasnya. Tujuan utama kami melihat Gunung Fuji  dari salah satu bukit yang memang menjadi tempat khusus melihat keindahan Gunung Fuji. Kachi-kachi Rope Away adalah tempat tujan kami, untuk naik ke bukit tidak harus berjalan kaki memakan banyak waktu, terdapat kereta gantung yang akan mengantar sampai atas bukit dengan membayar ¥700 untuk tiket PP. 


Dari halte Kawaguchiko cukup berjalan kaki selama 15 menit ke arah danau Kawaguchiko, kalau kata ibu di turis centre harus berjalan selama 45 menit kami sempat dibuat panik karna bus balik ke Tokyo akan datang jam 5 sore jadi kalau di itung hanya punya waktu 15 menit berada di atas bukit untuk melihat Gunung Fuji.

No comments:

Post a Comment