Bertamu ke Rumah Orang 'Sakti' Meski Sudah Tak 'Sakti' Lagi

"Makasih Mas, ati-ati di jalan!", ucap Bisri setelah menerima selembar uang kertas bergambar dua tokoh proklamator, pergi meninggalkan saya di sebuah tikungan tajam di sudut jalan raya gelap tak bersahabat, hanya diterangi lampu jalan seadanya dan sorot lampu depan kendaraan hilir mudik melintas tanpa bilang "Kulonuwun...!". 

Bisri pemuda berusia 23 tahun sudah dua kali menikah dan dikaruniai satu orang anak, baru saya kenal belum genap delapan jam lalu, berprofesi sebagai tukang ojeg dadakan disela kegiatan utamanya sebagai pekerja harian membantu mengurus Taman Nasional (TN) Baluran, guna membantu perekonomian keluarga agar tetap telihat asap mengepul dari bilik dapur rumahnya. 

Kami pun akrab setelah setengah hari lebih Bisri membawa saya berkeliling Baluran dengan motor kopling modifikasi miliknya, yang tak jarang sering mengeluarkan asap putih disertai bunyi prepet...pet...pet (lebih mirip suara kentut kekurangan angin). Tanpa rem depan dan tanpa pelindung kepala, saya pun hanya banyak berdoa dan terduduk di jok belakang sesekali berkata "Awas lubang!", "Tenang Mas, lubang kecil" timpal dia menenangi. 

Motor Bisri menerabas jalan semi aspal rusak berbatu, dengan kanan dan kiri jalan berupa pepohonan dengan daun kering keemasan ditemani rumput ilalang dibawahnya berwarna senada. Kian lama motor modifikasinya melaju semakin jauh meninggalkan papan bertuliskan "Welcome to Baluran, complete your adventure" dengan latar belakang gambar menjangan dan banteng yang saya jumpai di pintu masuk, menandakan saya sudah tiba di TN. Baluran-Jawa Timur. "Alhamdullilah, kesampaian juga menginjakan kaki di Baluran" dalam hati berucap senang.
"Taman Nasional Baluran, Banyuwangi - Jawa Timur"
"Selamat Datang di Baluran" Sambut Banteng dan Menjangan
Selama lebih dari enam jam Bisri sibuk mengajak saya melihat keindahan TN.Baluran yang terkenal dengan julukan Afrika di Tanah Jawa (Africa Van Java), dengan beberapa objek menarik seperti Savana Bekol, Pantai Bama dan melihat keindahan sunset yang bersembunyi dibalik Gunung Baluran di ketinggian 64 meter dari menara observasi dekat penangkaran banteng, meski Bisri merekomendasikan lebih bagus melihat matahari terbit dengan pemandangan arah laut di pantai Bama dengan pulau Bali terlihat disebelahnya persis.
***
Bayangan Bisri hilang berlalu bersama dengan motornya termakan gelap jalan malam itu, saya duduk terdiam diatas sebuah batu pembatas jalan dengan perasaan suka bercampur cemas, sambil menunggu bus antar kota ke arah Banyuwangi yang tak kunjung terlihat. Perasaan saya yang bercampur aduk bak karedok super pedas terbungkus diikat dua karet merah menandakan tingkat kepedasannya. 

Suka dan cemas muncul bersamaan dengan rasa senang disaat melakukan perjalanan seorang diri atau bahasa kerennya Solo Traveller untuk pertama kalinya. Terjebak di gelap malam yang mengharuskan saya mencari tempat beristirahat untuk membuang lelah setelah seharian berkeliling Baluran. Hanya terbesit satu tempat yang akan jadi pilihan utama saya untuk menginap dan membuang rasa lelah dan kantuk, walaupun agak ragu dengan keamanan tempat tersebut, karena baru kali ini saya mencoba tidur di tempat umum apalagi belum pernah disinggahi sebelumnya. 'Terminal Bus Banyuwangi', ya dalam benak saya hanya tempat itu paling siap menampung diri saya ditengah perjalanan ke tujuan selanjutnya menyapa Gunung Ijen.

"All Izz Well" dalam hati sambil mengusap dada seolah menirukan adegan aktor India Aamir Khan (Rancho) dalam adegan film 3 Idiots. Pada dasarnya hati/perasaan kita mudah mengalami rasa takut atau cemas, asalkan kita bisa menenangkan hati dan percaya Allah akan membantu, semua rasa takut dan cemas akan sirna seketika. Berkali-kali saya mengucap "All Izz Well" sambil menunggu bus jurusan Banyuwangi datang. 5 menit, 10 menit sampai 20 menit bus tak kunjung terlihat batang spionnya.

Sedang asik dari kejauhan terdengar suara memanggil "Oii...Mas" sontak mengagetkan. Terdengar tidak asing suaranya, pria berkaus biru muncul menggunakan motor dari jalan gelap ditambah topi putih yang dia kenakan seakan sangat familiar, semakin mendekat dengan posisi saya terduduk di ujung jalan. Tampak Bisri sudah berganti pakaian, mungkin sehabis mandi di rumahnya yang berlokasi tidak jauh dari jalan raya tempat saya menunggu bus.


"Untung belum berangkat, Ibu suruh Mas mampir ke rumah" seru Bisri. 
"Wah makasih, tapi udah malem gak enak namu malem-malem" balas saya sungkan.    
"Justru itu Mas, karna udah malem sekalian aja nginep di tempat saya" ajak Bisri.

Dalam benak saya, mungkin Allah sedang kasih bantuan lewat tangan Bisri, akhirnya saya mengiyakan untuk ikut kerumah Bisri.

Jalan gelap dengan sedikit penerangan berupa lampu jalan berwarna kekuningan dengan suasana perkampungan sepi, jam menunjukan setengah sembilan malam tampak warganya sudah sibuk dibalik selimut.  Tidak lama Bisri membelokan kemudi motornya ke arah kiri jalan, memasuki jalan lebih kecil, jalan setapak tanpa aspal hanya rimbunan batang bambu berdaun kering bercampur dengan beberapa pohon pisang tak berbuah. Diujung jalan terlihat kandang kambing bersebelahan dengan kandang ayam seolah tampak mesra kerukunan bertetangga mamalia dan unggas dengan mengembik dibalas kokokan mesra.

Rumah Bisri tidak jauh berbeda dengan tetangga disekitarnya, rumah sederhana dihuni oleh 5 orang anggota keluarga. Di bagian depan terdapat ruang tamu seukuran 2x3 meter dengan meja kayu kecil berupa lesehan berada di tengah menyambut kedatangan saya. Tidak jauh dari ruang tamu ada ruang keluarga terlihat sedang asik digunakan untuk menonton televisi dibumbui sedikit canda tawa. Dan dapur yang masih beralaskan tanah di bagian samping kiri memanjang dari ruang tamu hingga ruang keluarga, di bagian belakang ruang tamu terdapat kamar tidur tertutup lembar papan triplek membentuk persegi sebagai sekat penutup.

"Assalamualaikum" ucap saya memasuki rumah Bisri.
"Waalaikumsalam, mari masuk Mas" sahut wanita paruh baya mengenakan daster bermotif bunga berwarna dominan hitam mempersilahkan duduk.

Tanpa basa basi si Ibu menawarkan saya makan malam, mungkin terdengar dari naga di perut saya yang sudah berceloteh minta di isi. 

"Ibu bikinin mie rebus ya Mas buat makan malam" seolah menjadi berita bahagia buat saya malam itu.

Tidak lama Ibu Basri datang membawa semangkuk mie rebus dengan kuah kari berminyak kekuningan diantaranya menyelinap kuning telur sudah tak berbentuk, ditambah secentong nasi dengan warna kekuningan bercampur jagung. Nasi jagung yang disajikan bukan sebagai menu diet layaknya cewe metropolis agar terlihat tetap ramping ketika hendak diambil gambarnya, tetapi sebagai pengganti beras yang harus mereka hemat ditengah kondisi kekurangan. 

"Nambah lagi nasinya Mas, ya kalau disini makan nasi jagung sudah biasa" pinta Ibu Bisri. Tak lebih dari sepuluh menit mangkuk mie di depan saya sudah bersih, hanya tersisa sedikit kuah kari. Semua habis tertelan dalam sekejap berpindah ke dalam lambung yang dari tadi sibuk melumat tanpa ada yang bisa dilumat.

"Makasih banyak Bu, jadi ngerepotin malam-malam begini" ucap saya sungkan.

Segelas teh manis hangat menemani perbincangan saya dengan Ibu Bisri, beliau bercerita kegiatannya selain sebagai ibu rumah tangga beliau terbiasa mencari kayu bakar di hutan kawasan TN.Nasional Baluran. Kayu bakar yang dikumpulkan biasa dijual guna menambah pundi keuangan keluarga. Berjumpa dengan binatang liar seperti macan hutan dan ular besar saat mencari kayu sudah menjadi hal biasa, membuatnya sudah hafal betul seluk beluk hutan Baluran. 

"Assakamulaikum" teriak seorang pria dari depan pintu. Dengan kopiah hitam dan baju koko putih, pria berparas lebih tua dari Ibu Bisri memasuki rumah. 

"Ada tamu jauh yah?" Tanya pria tersebut sesaat melihat kehadiran saya, 
"Iya Pak, tamu dari Jakarta" jawab Ibu Bisri menimpali.

"Habis dari mana dan mau kemana ?" Tanyanya. 
"Dari Baluran, habis ini mau ke Ijen Pak." Terang saya.

"Mau berangkat malem ini ?, mending nginep dulu di sini. Jam segini udah susah cari angkutan umum kesana, apalagi gak ada yang langsung sampai sana, harus naik ojek lagi buat sampai ke atas dan lumayan jauh jaraknya, baiknya  berangkat besok aja. Malam ini tidur disini dulu" Jelasnya memastikan jika saya tidak berangkat malam ini. Mendengarnya kata Bapak Bisri membuat saya mengurungkan niat untuk berangkat malam ini juga.

Seringkali saya mendengar Bisri dan keluarganya berkomunikasi menggunakan bahasa daerah setempat, bahasa yang digunakan terdengar perpaduan antara bahasa Madura dan Bali sehingga agak bingung juga ketika mendengar mereka sedang asik ngobrol.

"Dulu bapak suka bantu orang buat pemilihan kepala daerah" jelas pria paruh baya tersebut pada saya.

Dalam benak saya mungkin bapak ini adalah seorang tim sukses partai terentu.
"Wah anggota tim sukses partai mana Pak? " tanya saya penasaran. 

"Ya gak pasti partai mana Mas, tergantung yang nawarin aja" jawabnya.
"Jadi bapak biasa bantu dalam hal gaib" mendengar kata 'gaib' membuat bulu kuduk saya agak merinding. 

"Gimana caranya Pak?" Tanya penasaran.

"Jadi pemilih yang seharusnya milih A saya balik jadi pilih B" Jelasnya.

"Jadi mirip serangan fajar gitu ya Pak, bagi-bagi duit sebelum pemilihan?" Tanya saya memastikan.

"Bukan Mas, cukup pake doa-doa tertentu aja" Himbaunya.

"Wah salah alamat nih" pikir saya, kok bisa-bisanya bertamu di rumah orang 'Sakti' atau orang 'Pinter' dengan sedikit perasaan takut. Tapi kalau dilihat dari rumahnya, saya tidak melihat ornamen berbau klenik seperti tengkorak kepala kucing atau bau ganjil seperti kemenyan dan sejenisnya.   

"Dulu Bapak juga suka bantu orang yang lokasinya jauh kayak di Kalimantan, kadang Sulawesi juga ada" Tambahnya lagi.

"Wah enak dong Pak, jalan-jalan terus" Pikir saya.

"Saya gak harus datang ke sana Mas, cukup dari sini aja bantu-bantunya" 

"Lho kok bisa Pak?" tanya saya tambah bingung.

"Cukup meditasi ditambah doa-doa tertentu, nanti jasad bapak bisa ada di sana" jelasnya di luar nalar manusia normal.

Ternyata ilmu Bapak tidak hanya dipakai sendiri tapi pernah juga di pakaikan ke Bisri. Pernah dulu sekali di pakai Bisri buat tanding Voli, buat smash pukulannya sangat keras. Sampai-sampai pernah ada orang dibuat pingsan oleh pukulannya ketika bola voli mendarat tepat di kepala.

Ternyata tidak hanya sekelas preman yang bisa pensiun, sekaliber 'Orang Pintar' seperti Bapak Bisri pun bisa. Mungkin memang sudah waktunya, mengingat terus bertambah jamur rambut 'uban' yang menandakan semakin dekat akan panggilan Sang Pencipta.


"Savana Bekol di Taman Nasional Baluran, Banyuwangi - Jawa Timur"
Bisri Berpose Disamping Ikon Baluran 'Kepala Banteng' di Savana Bekol
Akhirnya pagi itu saya meninggalkan sedikit kenangan menginap di rumah Bisri yang tak saya duga sebelumnya bahwa Bapaknya adalah salah satu orang yang pernah memiliki ilmu sakti.

No comments:

Post a Comment