5 Hari Keliling Burma Myanmar (Part 3) - Jangan Panik Di Mandalay

Sabtu, 15 Agustus 2015 - jam menunjukan pukul 02.24 dini hari waktu Myanmar, tepatnya waktu Mandalay. Tujuan hari ini adalah ekplorasi kota Mandalay, entah kenapa saya tertarik dengan kota terbesar kedua di Myanmar dan memiliki populasi penduduk sebanyak 2,5 juta jiwa ini atau karena dahulu Mandalay adalah ibu kota kerajaan Myanmar, tapi bukan karena itu.

Salah satu tujuan saya memilih Mandalay adalah karena di kota ini ada pasar batu alam yang sangat terkenal bahkan hingga mancanegara, yang dikenal dengan sebutan 'Jade Market' dan merupakan salah satu pasar batu alam terbesar di Myanmar, meski saya bukanlah penggemar koleksi batu yang rela hingga bayar mahal dan tak lupa menggosoknya setiap hari. 


Singkat cerita ketika kami (Saya dan Indika, buat yang belum kenal dengan Indika, lihat di part 5) tiba di Mandalay.

Bus mengantar kami berdua dari Inle Lake (Nyaungshwe) menuju Mandalay, dengan menempuh perjalanan sepanjang 257 km dan memakan waktu kurang lebih 6 jam perjalanan. Dan lagi bus yang kami naiki adalah semi sleeper bus sama seperti bus dari Yangoon ke Inle Lake jadi tidak khawatir badan pegal atau sakit ketika bangun.
Bus mulai memperlambat jalannya ketika memasuki Terminal Mandalay, sesaat suara supir membangunkan para penumpang ditambah suara gaduh dari luar bus layaknya alarm yang gagal di hentikan hingga membangunkan kami berdua. Tidak lama bus berhenti dan para calo yang sedari tadi berteriak menawarkan jasanya serentak masuk ke dalam bus dengan harapan ada penumpang mau menerima jasa mereka, sama halnya seperti kebanyakan terminal bus di Indonesia.

Pagi itu angin berhembus kencang menerpa kami diantara beberapa penumpang lain yang sedang menunggu sanak saudaranya untuk dijemput, tapi tidak dengan kami berdua yang terlihat bingung mau kemana dan naik apa untuk ke pusat Kota Mandalay, karena memang kami tidak membuat rencana perjalanan secara mendetail. 

Kami pun duduk di kursi tunggu tepat di depan loket tiket bus yang buka 24 jam sambil menahan dingin dan kantuk. Sayup angin pagi tak menghalangi kesiagan menjaga barang bawaan. Dini hari itu sedikit aktivitas pagi sudah dimulai, beberapa perumpuan paruh baya menjajakan dagangan kelontong dan juga menjual kopi dan roti, ditambah para biksu mulai dari anak kecil hingga orang tua dengan bertelanjang kaki berjalan sambil meminta derma dari orang yang di lewatinya, sungguh dini hari di Mandalay. 

Baca juga: Menunggu Pagi Di Macau Terminal (Part 1)

Menjelang pukul 7 pagi kami pun bersiap pergi ke pusat kota, geliat terminal Mandalay sudah mulai ramai dengan lalu lalang orang ditambah kendaraan yang sebagian besar adalah bus antar kota. Ngomong-ngomong kendaraan, kami pun bingung mau naik apa untuk dapat sampai ke pusat kota, karena terminal Mandalay berada di pinggir kota dan butuh waktu sekitar 30 menit untuk sampai pusat kota atau lebih tepatnya ke pasar batu 'Jade Market' yang merupakan tujuan utama kami hari itu.

Sebenarnya ada beberapa pilihan transportasi ke pusat kota, kita bisa pilih naik bus umum, taksi atau opsi terakhir naik ojek motor. Pilihan pertama bus umum tidak kami pilih karena masalah bahasa dan kami agak sedikit malas bertanya dengan bahasa tarsan (pengaruh belum sarapan). Pilihan kedua berupa taksi yang jelas tidak kami pilih karena selisih harga cukup jauh dari mode transportasi terakhir yaitu ojek motor, ya ojek motor menjadi pilihan kami. Dengan membayar dua ribu kyat (20rb rupiah) ya gak jauh beda dengan tarif ojek di Jakarta. Di ujung pintu keluar terminal ternyata banyak ojek pangkalan yang sedang asing menunggu penumpang, dengan sedikit bahasa tarzan tukang ojek pun mengerti apa yang kami mau tuju.

Sekitar tiga puluh menit kami pun sampai dan diturunkan di tengah kota entah dimana dan sialnya bukan di pasar 'Jade Market'. Kami pun membayar kedua tukang ojek tersebut dengan dua lembar Kyat berwarna merah (hampir semua pecahan Kyat itu berwarna merah). Kedua tukang ojek itupun segera meninggalkan kami yang terlihat bingung.

"Dik Kyat kita tinggal berapa?" Tanya saya ke Indika, memastikan Kyat kami masih cukup untuk tiga hari ke depan.

Baca juga: 8 Jam di Bangkok Kemana Aja ? (Part 1)

Indika membuka dompet dan segera menghitung Kyat yang masih tersisa. Tidak lama raut mukanya berubah, entah apa yang membuat dia menjadi panik.

"Dik kenapa? Tinggal berapa uang kita?" tanya saya sekali lagi.

"Kok cuma segini ya?" tanya dia balik sambil kebingungan melihat isi dompetnya.

"Hahhh..tinggal berapa emang?" tanya saya kaget.

"Tadi gak segini deh, seingat ku masih ada pecahan dua puluh ribu Kyat dua lembar" masih gak percaya dengan isi dompetnya saat itu sambil menghitung Kyat yang tersisa.

"Aduh, jangan-jangan tadi aku salah kasih uang ke tukang ojeknya" dengan raut muka panik dan menyesal.

"Aduh gimana dong, udah gak keliatan tuh tukang ojeknya" tambah panik sambil melihat jalan berharap tukang ojeknya balik karena tau kalau kami salah kasih duit yang seharusnya dua ribu malah kami bayar dua puluh ribu Kyat. (1 Kyat = 10 Rupiah.

"Waduh, gawat! Jangan panik, jangan panik" batin saya menenangkan diri biar ga panik.

Biasanya kalau panik otak kita malah jadi gak guna, yang seharusnya bisa mikir jernih malah mikir yang ngga-ngga. Sebisa mungkin untuk ga panik dalam kondisi saat itu yang harus mencari tukang ojek entah kemana perginya. Dalam benak saya pasti kedua tukang ojek tersebut balik lagi ke terminal Mandalay buat mangkal cari penumpang berikutnya, buat apa susah cari tukang ojek yang sama ke seantero Mandalay, pikir saya. 

"Yaudah Dik kamu tunggu disini aja ya, jangan kemana-mana. Saya coba ke terminal Mandalay lagi buat cari tukang ojeknya kali aja tuh tukang ojek balik lagi kesana" pinta saya biar dia sedikit tenang dan gak merasa bersalah. 

Gak lama saya stop motor yang lewat untuk minta tolong diantar ke terminal Mandalay sambil kasih tau kronologinya. Untungnya orang Myanmar baik dan ternyata beberapa bisa bahasa Inggris, jadi gak perlu repot pake bahasa tarzan buat ngejelasinnya. Gak lama saya kami pun jalan ke terminal Mandalay, sambil celingak celinguk sepanjang jalan berharap lihat helm merah yang digunakan salah satu tukang ojek. Alhasil sepanjang jalan nihil gak ada, barulah cari kedalam terminal tepatnya ketempat saya naik tadi.

Baca juga: Cara Mudah Umroh Backpacker, 9 Juta Aja!

Setelah menunggu kurang dari tiga puluh menit, syukurnya satu tukang ojek beneran balik lagi ke pangkalan, segera saya dekati dan jelaskan dengan bahasa tarzan karena doi gak bisa bahasa Inggris sambil diliatin teman satu profesi yang lain. Saya pun bilang kalau teman saya tadi salah kasih pecahan Kyat yang seharusnya dua ribu dikasih dua puluh ribu karena warna uangnya mirip. Dengan bahasa seadannya akhirnya dia ngerti dan mengembalikan sisanya uang sebanyak delapan belas ribu Kyat. Pikir dia kalau teman saya kasih lebih untuk tip atau ucapan terima kasih, ya dia seneng-seneng aja dikasih kembalian lebih. Saya pun tanya kemana temennya yg satu lagi. "Masih istirahat" jawabnya. "Yaudah saya tunggu disini aja" jawab saya pake bahasa tubuh seadanya. 

Ga lama datanglah temannya yang tadi membonceng Indika, tanpa susah payah diapun memberikan uang kelebihan bayar tanpa harus dipaksa oleh debt collector bank. Saya pun kembali ke tempat Indika menunggu, dengan harap cemas Indika langsung bertanya "Gimana ?", "Alhamdullilah ketemu dan balik uangnya" jawab saya menenangkan.



Mungkin lain cerita kalau kami semua panik, yang ada uang tiga puluh enam ribu Kyat melayang gak balik ke kantong. Singkat cerita tukang ojek yang antar saya tadi tanya mau kemana aja selama di Mandalay dan beruntungnya lagi dia menawarkan diri untuk jadi guide sehari penuh dengan meminta bayaran $15. Meskipun diawal sempet buat kami bingung untuk pilih tukang ojek, karena ada tiga tukang ojek menawarkan diri. Akhirnya pilihan kami jatuh ke tukang ojek yang mengantar saya dan satu lagi yang lumayan bisa bahasa Inggris. 

Tidak lama kami segera berangkat berkeliling Mandalay. Mau tau ada apa aja di Mandalay? Besambung part 4...

No comments:

Post a Comment